Makarti Jaya

Makarti Jaya

Jumat, 19 Juli 2019

Dharma wacana "Cinta Kasih menebarkan Kedamaian"


Cinta Kasih menebarkan Kedamaian
Om awignam astu namo sidham
Om sidhirastu  tad astu svaha,
Om anubhadrah kartayo yantu visvatah ya namah svaha.
Om Svastyastu,


Umat Sudharma yang saya hormati

Bapak, ibu, umat se-Dharma yang berbahagia. Ijinkan sejenak saya memanjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas berkat berlimpah dari beliau hari ini saya bisa berada disini untuk membawakan Dharma Wacana yang mengangkat tema tentang Cinta Kasih, dan lebih khusus saya beri judul yaitu “cinta kasih menebarkan kedamaian
Hadirin yang berbahagia,
Saat ini kita berada pada jaman dimana umat manusia dihadapkan pada era yang lebih banyak mempertontonkan keangkuhan, keserakahan, serta sifat ke-tidak pedulian manusia terhadap sesama. Sangat sedikit sekali kisah keseharian dari kehidupan kita yang menggambarkan rasa simpati, rasa senasib sepenanggungan, apalagi hasrat untuk berbagi antara satu dengan yang lainnya. Jikapun ada frekuensinya relative sangat sedikit. Kalaupun seseorang atau sebuah lembaga mengadakan kegiatan kemanusiaan, itupun tidak terlepas dari keinginan untuk menunjukkan identitas, ego, bahkan hanya sekedar skenario untuk tujuan dibelakang yang ujung-ujungnya hanya untuk kepentingan pribadi.
Akar dari makna Cinta Kasih adalah perbuatan yang selalu dilakukan untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk kita semua. Di dasarkan pada pemahaman bahwa kerja yang kita lakukan adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan, serta akan menjadi sangat mulia, tatkala kerja yang kita lakukan tidak berdasarkan keinginan untuk mendapatkan pamrih yang berlebihan, ataupun semacam teori berdagang yang hendak diterapkan, karena selalu mengharapkan keuntungan dari setiap kerja yang dilakukannya.
Bapak/ibu, umat se-Dharma yang berbahagia,
Dalam Bhagavat Githa II.70           
Apuryamanam acalya prasistam
Samudram apah prawicanti yadwat
Tadwat kama yan prawicanti sarwe
Sa santim apnoti na kama-kami
Artinya :
“Hanya orang-orang yang tidak terpengaruh oleh arus keinginan, yang mengalir terus menerus yang masuk bagaikan sungai-sungai kedalam lautan, yang senantiasa diisi tetapi selalu tetap tenang untuk mencapai kedamaian bukan orang-orang yang berusaha mengisi keinginan itu yang dapat mencapi kedamaian”.

Hadirin yang berbahagia :
Adakalanya perbuatan-perbuatan manusia digerakkan oleh sebuah mesin bernama keinginan. mesin ini diberikan kesempatan untuk berkuasa maka sebuah gerbang kegelisahan telah terbuka, menunggu untuk menjadikan carut-marut lingkaran perjalanan hidup. Belajar dari pesen-pesan penuh makna nilai kasih sayang ini, saya mohon kepada para hadirin untuk sejenak membuka ruang hati masing-masing untuk sebuah pembelajaran tentang Cinta Kasih dari sekuntum bunga yang slalu hadir disekitar kita yang selalu menebarkan kedamaian.

Bapak/ Ibu umat Sudharma
Ada 4 pesan yang ingin dititipkan kebatin kita semua oleh Sang BUNGA yaitu :
  1. 1.      Bunga selalu berusaha menuju dan mengarah ke atas,
Setiap perjalanan rohani seharusnya membuat kita semakin bergerak maju, mengurangi beban-beban keinginan duniawi, sehingga membuat langkah kita semakin ringan hingga pada akhirnya membawa kita keatas menuju perdamaian. Bunga sudah melakukannya bahkan diranting yang terendahpun bunga selalu berusaha untuk mengarahkan dirinya keatas, seolah-olah berpesan, “Lepaskanlah bebanmu, egomu, mari kita bergerak untuk maju”.
  1. 2.      Bunga selalu memancarkan aroma keharuman
Tak terbantahkan bahwa sebagian besar dari bunga memancarkan aroma keharuman, tidak perduli apakah dia tumbuh di sawah, di ladang, di pinggir jalan, atau bahkan di pinggir got sekalipun bunga tidak tergoyahkan. Dengan tangan kanan atau tangan kiri digunakan untuk memetik bunga tadi lagi-lagi bunga tak terpengaruh, dia selalu hadir dengan keharuman yang sempurna.
 3.      Bunga tidak pernah menuntut dan tidak mengeluh
Kehidupan semestinya berubah, karena tiada yang kekal kecuali perubahan itu. Tatkala bunga harus digantikan keberadaannya oleh buah maka bunga menunjukkan sebuah pelajaran yang tak ternilai, yaitu “Jangan pernah mengharapkan kehidupanmu berjalan sesuai dengan keinginanmu, tatkala kebahagiaan datang bersiaplah menerima penderitaan diputaran waktu berikutnya”. Bunga tidak pernah menuntut dan tidak mengeluh ketika posisinya harus digantikan oleh buah.
  1. 4.      Pelajaran terakhir dan paling utama dari bunga, yaitu:
Bahwa manakala dia harus gugur dan rontok ke tanah, sebuah pengorbanan besar tanpa pamrih ia lakukan, yaitu dengan membiarkan dirinya hancur terurai, kemudian menjadi pupuk penyubur bagi tanaman yang ada disekitarnya. Pesan penuh makna nilai kasih sayang ini hendak disampaikan kepada kita yang hidup ini, bahwa manakala dalam keadaan serba kekurangan, bahkan ketika penderitaan datang dia masih sempat membuat hidup lebih bermanfaat untuk makhluk lain. Nah, pertanyaannya adalah: “Adakah diantara kita yang bersedia mengikuti langkah Sang Bunga tadi?”.
Para hadirin yang terkasih,
Di dalam diri kita sudah ada bibit kasih sayang dan kedamaiaan, perjalanan latihan bergerak semakin sempurna. Ketika manusia dalam kesehariannya rajin menyirami bibit kasih sayng dan kedamaiaan, serta berhenti menyirami bibit kebencian dan kemarahan. Satu-satunya jalan adalah dengan contohkan akan damainya sebuah “Cinta Kasih”. Dia bisa seteguh karang dan menyentuh embun pagi yang sejuk dan menyegarkan. Berangkat dari sentuhan-sentuhan hangat kasih sayang, tidak seharusnya kita saling membenci, dan tidak mesti ada persaingan dengan menyakitai yang lainnya. Bila bibit kasih yang kita tanam kemudiaan diairi dengan siraman keikhlasan, serta di pupuk dengan keheningan, maka suatu saat akan ekar bunga-bunga kebahagiaan sejati (Sat cit Ananda).
Bapak/ibu, umat se-Dharma,
Kasih Tuhan atau kasih yang suci ini, jangan dianggap sebagai sesuatu yang “Asing bagi manusia”, ubahlah kebencian menjadi kasih, ubahlah kemarahan menjadi kasih, bila hati manusia penuh dengan kasih maka seluruh dunia akan menjadi santhi / damai. Dalam konsep Veda sudah dibahas dengan jelas “Vasudaiva Khuthumbakam” bahwa seluruh dunia adalah sebuah keluarga besar, sehingga kita harus hidup dalam persaudaraan
cintaKasih merupakan sifat dasar dan alami dari manusia. Memberikan ruang yang cukup untuknya berkembang maka membuat bungan kasih bermekaran dimana-mana. Para hadirin yang berbahagia,
Demikian tadi pesan dharma  yang dapat saya hadirkan, di hadapan bapak-bapak, ibu-ibu, dan umat se-Dharma yang hadir disini. Tentunya, tersirat di dalam lubuk hati yang paling dalam akan sebuah harapan agar kiranya Dharma Wacana ini bisa menjadi bahan perenuangan untuk kita semua yang hadir di sini, paling tidak apa yang menjadi judul dari materi tersebut bisa terwujud, dengan mengajak semua yang hadir disini untuk menebarkan kedamaian dengan ajaran Cinta Kasij”. Terima kasih atas perhatiaannya, mohon maaf yang setulus-tulusnya apabila terdapat kesalahan baik materi, kata-kata, maupun penyampaian Dan kepada Ida SangHyang Widhi Wasa, hamba haturkan

Om ksantawyo waciko mama.

-Om Santi, Santi, Santi, Om-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar