KELUARGA SUKINAH DARI PERSPEKTIF HINDU

Prajanartha striyah srstahSamtanartham ca manawahTasmat sadharano dharmahςrutau patnya sahaditahVedasmrti. IX.96Untuk menjadi ibu, wanita itu diciptakan danuntuk menjadi ayah , laki-laki itu diciptakanUpacara keagamaan karena itu ditetapkan di dalam
VedaUntuk dilakukan oleh suami beserta dengan istrinya.A. PendahuluanSejak awal kehidupan
manusia , ternyata bersatunya antara seorang wanita dengan seorang
laki-laki yang disimbulkan akasa dan pertiwi sebagai cakal bakal sebuah
kehidupan baru yang diawali dengan lembaga perkawinan. Hendaknya laki-laki dan
perempuan yang telah terikatdalam ikatan perkawinan selalu berusaha agar
tidak bercerai dan selalu menyintai dan setia sampai hayat hidupnya, jadikanlah
hal ini sebagi hukum yang tertinggi dalam ikatan suami-istri (G.Pudja MA, 2002
:561). Keluarga yang dibentuk hanya berlangsung sekali dalam hidup
manusia, keluarga atau rumah tangga bukanlah semata-mata tempat berkumpulnya
laki dan wanita sebagai pasangan suami istri dalam satu rumah, makan-minum
bersama. Namun mengupayakan terbunanya keperibadian dan ketenangan lahir dan
bathin, hidup rukun dan damai, tentram, bahagia dalam upaya menurunkan tunas
muda yang suputra (Jaman, 195 :3).Menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974
Bab Ipasal 1:menyebutkan bahwa perkawinan ialah ikatan lahir dan
bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan
tujuan membentuk keluarga bahagia dan kekal berdasarkan Ketuahanan Yang maha
Esa.pasal 2 :Menyebutkan bahwa perkawinan adalah sah apabila
dilaksanakan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.Dengan demikian
perkawinan menurut pandangan Hindu bukanlah sekedar legalitas hubungan biologis
semata tetapi merupakan suatu peningkatan nilai berdasarkan hukum Agama, karena
Wiwaha samkara adalah merupakan upacara sacral atau skralisasi peristiwa
kemanusiaan yang bersifat wajib ( G. Pudja,MA,2002 :80).Keluarga
bahagia yang menjadi tujuan wiwaha samkara dalam terminology Hindu disebut
keluarga Sukhinah merupakan
unsur yang sangat menentukan terbentuknya masyarakat sehat (sane society).
B. Tujuan
GrehasthaBeranjak
dari Veda Smrthi Bab. IX Sloka 45 menegaskan bahwa ia yang merupakan orang
sempurna yang terdiri atas tiga orang menjadi satu : istrinya, ia sendiri dan
keturunannya .Begitu pula dikatakan tidak ada bedanya sama sekali antara Dewi
Sri (Dewi Kemakmuran ) dengan istri dirumah, yang dikawinkan dengan tujuan
untuk mempunyai keturunan membawa
kebahagiaan dan layak dipuja sebagai pelita rumah tangga (Veda Smrthi. XI.26). Kata anak dalam
bahasa sankerta “Putra” kata putra berarti kecil, yang disayang, kata putra
menjadi penting dalam berkeluarga , hal secara tegas seperti sloka berikut :
Pumnamo
narakadyasMattraya
te pitaram sutah,Tasmat
putra iti proktahSwayamewaswayambhuwaArtinya
:Oleh karena seorang anak yang akan menyebrangkan orang
tuanya dari neraka yang disebut Put (neraka lantaran tidak punya keturuanan ),
oleh karenanya ia disebut putra.Sehingga
arti dan maksud kata Putra pada
hakekatnya adalah ia yang menyelamatkan atau menyebrangkan roh orang
tua/leluhurnya dari neraka mencapai sorga.
Apakah semua anak
dapat membahagiakan keluarganya, tentu tidak karena kita sering
melihat dan mendengar istilah anak durhaka, anak penghacur keluarga. Namun
anak yang dimaksudkan dlam tujuan perkawinan Hindu adalah anak yang suputra
yang senantiasa membahagiakan keluarganya ( PGAHN, 1987:26).Pentingnya
berkeluarga untuk tujuan kebahagiaan dan penyelamatan dari neraka, juga
dinyatakan bahwa Jaratkaru yang melihat orang tua yang tergantung di bamboo
petung pangkalnya digigit tikus di pinggir jurang. Karena tersentak hatinya
barkatalah Jaratkaru:Ling Sang Jaratkaru : aparan ta rahadyan sanghulun
kabeh, ginatung ri petung sawulih, meh tikela deni panigit ing tikur, ikang
jurang ri sornya tan kinawruhan jero nika. Ya tikangde larangeresi manah
ninghuluh, moghawelas ahyun tumulunge kita.( Apakah sebabnya tuanku sekalian bergantung
dibuluh yang hampir putus oleh gigitan tikus, seang dibawahnya jurang yang
tiada terduga dalamnya ?. Perbuatan itulah yang menyebabkan hamba, kasihan
hamba melihat, dan hamba akan menolong )Menjawablah
orang yang tergantung di buluh petung :“kunang tapan pegat wangsa mami. Nahan ta mami n pegat
sangkeng pitraloka, magantungan petungan sawulih, kangken tibeng narakaloka;
tattwa nikang petung sawulih, hana wangsa mami sasiki, Jaratkaru ngaranya. Ndan
moksa wih ta ya, mahyun luputeng sarwajanmabandhana, tatan pastry”Artinya ……. Karena keturunan kami terputus. Itulah
sebabnya saja pisah dari dunia leluhur, bergantung dibuluh petung ini,
seakan-akan sudah masuk neraka. Ada seorang keturunan saya bernama Jaratkaru,
ia moksa (pergi ) untuk melepaskan ikatan kesengsaraan orang, ia tiada beristr
( Adiparwa 1938 :35)Demikianlah
pentingnya posisi spiritual dari seorang anak dalam keluarga Hindu, karena
kelahiran anak yang suputra akan membahgiakan keluraganya dan membuka sorga
setelah kematian leluhurnya. Namun untuk mendapat kan anak yang
suputra sebagai sumber kebahagiaan keluarga ( yan ning putra suputra sadhu gunawan mamadangi ri kula
wandawa), tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
Untuk ini diperlukan serangkaian proses yang cukup
panjang :Tahap
1. Menentukan Areal Rumah TanggaTahap
2. menentukan calon pasangan yang baikTahap
2. menyiapkan perkawinan yang baikTahap
3. Proses reproduksi yang baik dan terkendali.Tahap
4. perawatan dan pendidikan yang benar. C. Menentukan Areal Rumah TanggaSetelah
seseorang melakukan samskara wiwaha,maka ada tempat tinggal pasangan
suami-istri tersebut yang dinamakan rumah tempat tinggal yang lazim kita sebut
sebagai Rumah Tangga yang didalamnya lengkap dengan kehidupan suami-istri dalam
areal rumah tempat tinggalnya.Massyarakat Hindu selalu berusaha bersikap hidup
dalam keseimbangan alam semesta. Keseimbangan tatanan hidup dengan alam semesta
berporos pada konsep hulu-teben,
sacral-profan, yang akhirnya areal rumah tinggal dibagi
menjadi tiga zone, sesuai
dengan nilai sacral (utama), nilai sedang (madya), dan nilai profan
(kanista) yang disebut TriMandala.dari konsep
Tri Mandala inilahirlah konsep sanga mandala dengan menempat arah airsanya (kaja
kangin) yang dinyatakan areal yang paling sacral sebagai pengkejawantahan
konsep niskala ke skala konsep Dewata nawa sanga. Kesembilan dewa yang
menguasai penjuru mata angin ini sangat berpengaruh terhadap tataletak bangunan
berdasarkan fungsinya ( Sulistyawati, 1998 :46). Penempatan tiap-tiap bangunan
yang mempunyai fungsi relegi selalu m,engikuti arah dewa yang menguasainya.
Misalnya letak dapur diletakkan di arah selatan, disesuaikan dengan arah yang
dikuasai oleh Dewa Brahma (Dewa panas/api) dalam kosmologi Hindu. Sumur di
sebelah utara bersebrangan dengan dapur , disesuaikan dengan arah Dewa
Wisnu (Sulistyawati,1998 :48).
Bila
kita akan membangun tempat tinggal hendaknya areal pekarangan di bagi 9 lebih
dahulu dan dalam kaitan dengan Tri
Mandala, maka arah perpaduan Timur dengan Utara (Airsanya)
memiliki nilai yang paling sacral sehingga dipakai tempat yang diposisikan
sebagai Utama mandala untuk letak pendirian tempat Ibadah.
Hal
ini jelas disuratkan bagi setiap umat Hindu yang telah berkeluarga hendaknya
memiliki tempat pemujaan berupa Pemerajan (sanggah) dalam lontar
Siwagama disebutkan sebagai berikut :…… wwang kamulan pamanggalanya sowang.Artinya :… dan Kamulan palinggih pada masing-masing pakarangan
rumah.Pemerajan ini
berfungsi sebagai tempat pemujaan roha suci leluhur atau atma yang telah Sidha
Dewata/Dewa Pitara (I Ketut Wiana, 1992 :22), sesuai dengan lontar Usana dewa
menyebutkan sebagai berikut :Ring kamulan ngaran Ida Sanghyang Atma, ring Kamulan
Tengan bapa ngaran sang Paratma, ring Kamulan Kiwa ibu ngaran sang Siwatma,
ring kamulan Tengah ngaran raganya, tu Brahma dadi meme bapa maraga Sang
Hyang Tuduh.Artinya :Pada Kamulan nama Beliau adalah Sang Hyang Atma, di
Kamulan sebelah kanan adalah linggih Paratma adalah Bapak, di kamulan ruang
sebelah kiri adalah linggih Siwatma adalah Ibu, di Kamulan tengah ada wujudnya
Brahma menjadi Ibu Bapak yang berujud Sang Hyang Tuduh.Keluarga yang
memiliki tempat tinggal (rumah), memiliki Tempat Pemujaan (mrajan) minimal
pada banguna mraja itu adanya pelinggih Rong Tiga, pelinggih Sedahan Penglurah
dan Gedong linggih Taksu ( Gde Soeka, BA, 1986 :13).Lingkungan
kedua tempat tadi menuju keseimbangan Bhuana Agung dan Bhuana Alit harus
selaras untuk mencari kesejahteraan jasmani dan kebahagiaan rohani, keselarasan
antara Bhuana Agung dengan kehidupan manusia menjadi tujuan pokok mengikuti
tata aturanperumahan seperti ini. Hal ini dilandasi oleh kesadaran bhawa Bhuana
Agung /alam semesta adalah kompleksitas unsure-unsur yang satu sama lain
terkait dan memebntuk satu sisitim kesemestaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa
nilai dasar dari kehidupan masyarakat Hindu adalah nilai keseimbangan.
Nilai keseimbangan ini tertuang dalam perilaku :
1. selalu ingin menyesuikan diri dan berusaha menjalin
hubungan dengan elemen-elemen alam dan kehidupan yang mengitari.2. Ingin menciptakan suasana kedamaian dan ketentraman
antara sesama makhluk dan juga terhadap alam dimana manusia hidup sebagai salah
satu elemen dari alam semesta raya.Kedua unsur tersebut
oleh masyarakat Hindu dianggap sebagai azas yang harus dipakai pedoman atau
tuntunan dalam kehidupan berumah tangga. Karena rumah tangga dianggap sebagai
dunia yang hidup dengan konsep Tri Hita Karana. Adanya parahyangan untuk
mencapai sasaran Satyam (kebenaran), adanya Palemahan untuk mencapai
sasaran Sundaram (kebahagiaan) dan adanya Tempat tinggal/rumah (pawongan )
sasaran untuk mencapai Kebijakan (Siwam). Kesemuanya itu menuju tujuannya
Jagadhita (secara sekala/nyata) dan Moksa secara Niskalanya (I Made
Suasthawa,199136)Kehidupan rumah
tangga tata letak keluar masuk menuju rumah (pemedal) juga mengikuti asta
kosala-kosali dengan tolok ukur yang empunya rumah itu sendiri.Bila rumah menghadap
:·
Timur : diukur dari arah
utara/kadya, lalu dibagi sembilan pintu masuk ambil pada
bagian 3 ( wredi guna) dan atau 4 (dana teke). Wredi artinya subur, banyak;·
Selatan : diukur dari
arah Timur ke Barat, lalu dibagi 9 pintu masuk ambil pada hitungan 4 (udan
mas), 6 (dana wredi) atau 8 (teka wredi);
·
Barat : diukur dari arah
Selatan menuju Utara, lalu dibagi 9 pintu masuk ambil pada hitungan 3 (wredi
mas ), 4 (wredi guna) da atau 5 (danawan);
·
Utara : diukur dari Barat ke
Timur dibagi 9 pintu masuk ambil pada hitungan 7 (suka agung).
Dengan memperhatikan
hitungan-hitungan tersebut diatas sesuai dengan arah banguan kita maka niscaya
kehidupan yang sejahtera dapat kita dekati dan penderitaan dapat kita hindari
(I Made Suandra, 1991 :22). Disamping tata letak yang kita tentukan seperti
diatas memilih areal pekarangan juga harus berhati hati dan hendaknya
hindari pekarangan seperti :1. Karang
karubuhan yaitu areal pekarangan yang berpapasan dengan perempatan jalan,
menyebabkan sakit-sakitan yang menempati.
2. Karang
Sandanglawe yaitu pekaranga yang memiliki pintu masuk berpapasan dengan
tetangga.
3. Karang
Kutabanda yaitu pekarangan yang diapit oleh jalan raya..
4. Karang
Gerah yaitu pekarangan yang terletak di hulu Pura atau parahyangan.
5. Karang
Suduk Angga yaitu pekarangan yang dibatasi oleh pagar hidup, terdapat dua
tempat pemujaan dari keluarga yang berbeda..
Pekarangan yang
dilarang seperti diatas perlu hendaknya dibuatkan upacara pemahayu karang atau
bangunkan palinggih tertentu (Drs. I Nyoman Singgih W, 1999 :15)Secara kodrati bahwa
setiap orang yang dilahirkan berlawanan jenis untuk bersatu dalam
kehidupan rumah tangga yang diawali dengan samskara wiwaha yang terwadahi dalam
areal /kawasan rumah tangga dengan system keseimbangannya. Mengingat berumah
tangga tidak untuk sesaat maka berhati-hatilah dengan mempersiapkan fisik dan
spiritual secara matang (K.H.M. RusliAmin, M.A, 2002 :18).D. Menentukan Calon Pasangan yang baikUntuk
mendapatkan calon pasangan yang baik harus diamati bibit, bebet dan bobot calon
pasangan.
Yang
dimaksudkan pengamatan bibit meliputi
asal-usul calon pasangan. Hendaknya diusahakan calon pasangan berasal dari
keluaga baik-baik artinya bukan dari keluarga yang gemar mabuk-mabukan,
penjudi, pemarah/emosional, pembohong, pencuri, gemar memerkosa, gemar
memerkosa, gemar memfitnah, penggemar black magic dan lain-lainya yang
merupakan perwujudan dari sifat-sifat sadripu dan sadatatayi. Bila memungkinkan
supaya diusahakan mendapatkan calon yang bisa diajak membangun keluarga
Sukhinah dari kelahiran Suwargacyuta yaitu orang-orang yang berbahagia turun
lahir dari sorga dengan cirri-ciri : tidak sakit-sakitan ( Arogya), disayangi
oleh sesamanya (Rati),
berssifat ksatrya( Curatwa), berbhakti
kepada Ida Sanghyang Widhi (Dewasubhaktih), murah
rejeki (kanakalabha) dikasihi
oleh orangbesar (Rajapriyatwa), Pembrani (Cura), bijaksana
dalam segala ilmu pengetahuan (Krtawidya), peramah
(Pryamwada).
Kesemuanya ini adlah cirri kelahiran sorga dan penjelmaan dari orang melakukan
dharma yang suci dahulunya (I Gusti Agung Oka, 1994 :24-25)
Yang
dimaksud dengan pengamatan tentang bebet atau
penampilan. Hendaknya menghindari orang kelahiran Neraka cyuta dengan cirri-ciri
sebagai berikut :Mandul (Anapatya), wandu (Akamarasa), mempunyai penyakit
asma ( Pitti), bisu (kujiwa) berbicara tidak jelas (Clesma) dan orang berambut
kemerah-merahan dan badannya cacat. Tetapi yang pantas dinikahi mempunyai
nama yang pantas dan badannya tidak cacat, jalannya seperti seekor angsa,
giginya kecil-kecil berbadan lembut ( I Gede Pudhja, M.A, 2002 :132-133)
Yang
dimaksudkan dengan pengamatan tentang bobot , ini
banyak diatur dalam Canakya Nitisastra maupun dalam Weda Smrti III.7 yang
menyatakan: Keluarga yang tidak hirau pada upacara suci, tidak mengerti
ajaran weda /agama hendaknya dihindari untuk dijadikan calon pasangan. Salah
satu susatra Veda menegaskan bahwa :
Akara iringngita irgatya cesta bhasitena ca;Natrawaktrawikarena jayate ca pariksitahMaksudnya seseorang harus diuji dengan melihat
tampilan luarnya berupa caranya berjalan, gerakgeriknya, perbuatannya, tutur
katanya ( I Gusti Agung Oka,
1993 :169)
Dalam menejemen
modern hendaknya mempertimbangan pengetahuan (knowledge), ketrampilan yang
dimiliki (Skill) dan tata laku kesahariannya (Attitude)nyaKelahiran
Neraka cyuta yang dihindari dalam memilih pasangan, juga dilarang adalah
masih hubungan sepupu dari keluarga Purusha,Arudaka namanya, saling
ambil (Pasikuh-paha), suami
istri pernah keponakan (Angemban
Ari), kawin dengan tumin ngarep (Anglangkahi sanggar),
mengawini janda beranak bila sudah punya anak laki-laki ,Ekajanma namanya
(Suwidja,1992 :101).
F. Menyiapkan Perkawinan yang BaikMeyiapkan
perkawinan yang baik perlu diperhatikan : perjodohan atau patemon, hari dan
bulan perkawinan yang di nilai baik serta bentuk perkawinan yang harus
diusahaka. Untuk itu perlu konsultasi kepada pakar yang terkait.1. PerjodohanPerjodohan
atau patemon laki-perempuan (lanang-istri) dalam dunia primbon ada beberapa
cara,antara lain misalnya perjodohanberdasarkan sapta wara dan panca
wara kelahiran calon laki-pempuan lalu masing-masing dibagi 9 tau
disebutkan dlam prembon sebagai berikut wetone panganten lanang lan wadon, Neptune dina lan
pasaran digunggung, banjur kabage 9, lanag turah pira wadon turah pira, yen
turah :
3 lan 9 sugih rejeki;
2 lan 7 anake akeh mati, 3 lan 5 gelis pegat . dari hari kelahiran lanang-wadon
; Selasa lan Rabo = sugih, Rabo lan Saptu = becik, Akada lana senen =
Sugih lara.( R. Soemodidjojo, 1993 : 12-13).Untuk mengetahui
pertemuan laki-peempuan itu baik atau buruk maka Urip/neptu sapta dan Panca
wara harus dipahami dengan baik. Urip Panca wara berturut-turut Umanis
=5, pahing= 9, Pon = 7, Wage = 4 , dan Kliwon = 8 sedangkan Urip
Saptawara Redite = 5, Soma= 4, Anggara = 3, Budha = 7, Wrehaspati = 8,
Sukra = 6 , dan saniscara = 9 ( I Ketut Guweng, — :2).Untuk memperoleh
pasangan yang ideal, terlebih dahulu harus mengetahui hari lahir (weton)
pasangan kita masing-masing, kemudian digabung menjadi satu dan dibagi 5 bila
sisa :a. Sri = Selalu sejahtera dan bahagiab. Gedong = Tidak kurang sandang panganc. Pete = Selalu bertengkar dan ributd. Lara = Mlarat dan banyak maslahe. Pati = Salah satu mendahului meninggal belum
waktunya.Yang berlaku secara
berkala 5 tahun secara bergantian, sehingga dengan mudah mengetahui masa
berkumpulnya dalam rumah tangga dan suasana yang dilaluinya.Hitungan
detailnya adalah Urip lahir lanag-istri (panaca dan sapta wara) digabung
kemudian dibagi 5 sisanya menunjukkan keadaan selama 5 tahun berjalan, kemudian
lima tahun berikutnya hasil pembagian dipakai mengurangi urip gabungan
awal, hasilnya kemudian dibagi 5 sisanya keadaan selama 5 tahun berikutnya.
Hasil pembagian selalu dipakai pengurang hasil terakhirnya dan selalu dibagi 5
menyatakan keadaannya, bila hasilnya 0 (nol) sama keadaanya dengan sebelumnya.Contoh : Minggu Wage dengan Senin Keliwon nilai
gabungannya (5 + 4) + ( 4+8) = 21 ( hasil gabungan urip lanang-istri)21 : 5 adalah 4 sisa 2 keadaannya
Gedong = Murah rejeki21- 4 17 : 5 adalah 3 sisa 2 keadaannya
Gedong = Murah rejeki17- 3 14 : 5 adalah 2 sisa
4 keadaannya Lara = Mlarat14 – 2 12 : 5 adalah 2 sisa 2 keadaannya
Gedong = Murah rejeki12 – 2 10 : 5 adalah 2 sisa 0 keadaannya
sama sebelumnya = Murah rejeki10 – 2 8 : 5 adalah 1 sisa
3 keadaannya Peta = Suka ribut8 – 1 7 : 5 adalah 1 sisa
2 keadaannya Gedong = Murah rejeki7 – 1 6 : 5 adalah 1 sisa 1 keadaannya Sri = sejahteradstnya.2. Hari dan bulan perkawinanKarma wasana yang
kita bawa sejak kelahiran kita akan memberikan warna pada kehidupannya,
sehingga para akhli astronomi/wariga hari kelahiran seseorang dapat
dterka/diramal maslah rejeki, suka-duhka hidup yang diraihnya melalui urip
kelahirannya. Biasanya dibaca hari kelahirannya menunjukkan masa yang dalami
masa anak-anak, dicari gabungan urip berikutnya masa remaja dan masa tua
adalah urip gabungan berikutnya dapat diketahui.Namun yang dipakai
patokan pertemuan suami istri adalah urip gabungan kelahirannya saja. Ataas
dasar itulah maka seseorang dapat meningkatkan status dan kualitas kehidupannya
yang akan dibangun melalui berumah tangga.Dari
Wuku yang berjumlah 30 maka wuku yang dihindari untuk malkukan upacara
Pawiwahan yaitu yangdisebut Rangda Tiga yang menyebabkan sering janda atau
Duda, adapun wuku yang dimaksud adalah Wariga, Pujut, Menail, Waregadian,
pahang, Prangbakat ( Ketut Guweng, — : 5).Dalam perjalanan
sasih juga seseorang mencari waktu perkawinannya menuju sasih Kasa, Kedasa,
Ketiga, Kapat dan Kalima, karena pada sasih-sasih tersebut sebagai sasih Dewa.
Maka pada sasih itu dilakukan kegiatan dewa yadnya. Jadi maksudnya untuk
memperoleh restu dan berkah dalam masa berumah tangganya.Mencari hari untuk
perkawinan orang harus terlebih dahulu mengetahui jumlah Urip/Neptu hari
kelahiran kedua calon mempelai (temantin), kemudian dicarikan hari dan pasaran
yang Uripnya/Neptunya bilamana dijumlahkan dengan jumlah Neptu kedua mempelai
tadi dan dibagi 3 bisa habis.Hitungan itu
merupakan tiga kata-kata sebagai berikut :Wali , berarti bahwa dalam perkawinan itu kurang cinta kasih
atau mudah bosen satu sama lain.Penghulu, berarti dalam perkawinan ini
bakal banyak cedera antara satu sama lain.Temantin, berarti bahwa dalam perkawinan itu bakal beruntung.3. Cara Perkawinan.Cara
atau bentuk perkawinan penting sekali diperhatikan. Weda Smrti III.42 menyatakan;
Dari perkawinan yang terpuji akan lahir putra yang terpuji, dari perkawinan
yang tercela akan lahir putra yang tercela. Karena itu hendaknya dihindari
bentuk perkawinan yang tercela. Aninditah stri wiwah air, anindya bhawati praja
ninditair nindita nrrnam, nasnam nidyam wiwarjayaet.
Dalam Weda Smrti III.20 disebutkan
bahwa diantara delapan bentuk perkawinan, ada yang memberi pahala, ada pula
yang menimbulkan derita, baik ketika masih hidup maupun setelah mati.
Kedelapan
bentuk perkawinan yang disebutkan dalam Weda Smrti adalah Brahma wiwaha, Daiwa wiwaha, Arsa wiwaha, Prajapati wiwaha,
Asura wiwaha, Gandharwa wiwaha, Raksasa wiwaha,dan Pisaca wiwaha.
Empat yang terakhir hendaknya dihindari oleh kaum brahmana. Gandharwa wiwaha
masih bisa ditolerir bila dilakukan oleh kaum ksatria, sedangkan raksasa wiwaha
masih bisadimengerti bila dilakukan oleh golongan sudra (Weda Smrti ).
E. Proses Reproduksi yang baik dan terkendaliDalam proses
reproduksi atau pembuatan anak perlu diperhatikan waktu yang dibenarkan dan
yang dilarang oleh ajaran agama Hindu atau yang pas untukmewujudkan keinginan
punya anak laki atau perempuan. Posisi tubuh atau gaya bermain
kedangkalan penting diperhatikan terutama untuk pasangan yang mengalami
kesulitan punya anak. Namun sejauh itu Weda belum mengatur.Memahami
waktu yang dilarang dan dibenarkan sangat diperlkan bila ingin mendapatkan anak
suputra sadhu gunawan,karena lontar Pameda smara menyatakan
sbb:
Yan asanggama ring istri wenang pilihan rahinane sane
kinucapayu, riwekasan yan adue anak lanang istri pahalanya dirgayusa tur saidep
warah yukti,tan angambekaken dursile, tan langgana, tuhu ring karya, bhakti
ring guru. Mangkana kapanggih de sang aniti brata yukti.Artinya:bila meggauli istri pada hari yang baik, maka bila
nanti punya anak akan diperoleh anak yang panjang umur, penurut, tidak nakal,
tekun bekerja, hormat pada guru atau orang tua. Itulah yang didapat oleh orang
yang mampu mengendalikan diri dalam menggauli istrinya.Dibandingkan
dengan Kitab suci Sarasamuccaya dan Pamedasamara, Veda Smrti tidak banyak
menetapkan hari – hari terlarang. Misalnya Dalam Weda Smrti III. 45-47 hanya
menetapkan larangan menggauli istri pada saat menstruasi yang
lamanya lebih kurang empat hari dan purwani yaitu
sehari sebelum purnama atau sehari sebelum tilem.Khusus untuk kaum brahmana,
agar tetap terjaga kesuciannya dilarang menggauli istri pada bulan purnama (poornima) dan pada hari
pertama, kedelapan dan keempat belas setelah bulan mati ( tilem/amavasya). Demikian dalam
Weda Smrti IV. 128.
Buku Suci
Sarasamuccaya Sloka 225 menetapkan hari terlarang untuk kaum brahmana lebih
banyak yaitu pada bulan purnama ,tilem, hari kedelapan dan keempat belas
setelah tilem maupun setelah pernama.Rontal Pamedasmara
menetapkan hari terlarang lebih banyak lagi dan berlaku untuk umum kepada siapa
saja yaitu; purnama, tilem, purwani, hari wetonan, kala ngruda, kala mrtyu,
minggu wage, selasa paing, selasa wage, rabu kliwon, kemis pahing dan sabtu
kliwon.Begitu
juga cara mendapatkan anak itu laki dan atau perempuan Veda menandaskan
beberapa hal seperti dalam Veda Smrti III.48 membrikan petunjuk:
Bila ingin mendapatkan anak laki campurlah pada hari genap,bila ingin anak
perempuan campurlah pada hari ganjil ( yugmasu putra jayante, striyo yugmasu
ratrisu, tasmad yugmasu putrathi samwice dartawe striyam). Catatan: Tanggal
satu ganjil dihitung saat mulai menstruasi.
Dalam kedokteran
modern, seleksi jenis kelamin melalui teknik rekayasa genetic adalah cara yang
paling tepat dan akurat, namun cara ini relatif mahal. Berikut ini disampaikan
tip cara murah yang bisa membantu mendapatkan anak laki atau perempuan.a. Bila ingin mendapatkan anak laki-laki1.
Bilaslah
kemaluan sesaat sebelum berhubungan intim dengan larutan
alkalis yang dibuat dari 2 sendok teh baking soda yang dicampurkan
kedalam segayung aqua;2.
Lakukan
hubungan intim pada saat atau menjelang ovulasi;3.
Usahakan
supaya istri lebih dulu orgasme bila mungkin orgasme beberapa kali, sebelum
pihak laki ejakulasi;4.
Arahkan
sperma sedekat mungkin dengan dengan mulut rahim;5.
Perbanyak
makan makanan yang mengandung kalium, natrium misalnya daging, jeruk,pisang,air
kelapa, kentang, garam.b. Bila
ingin anak perempuan1. Bilaslah kemaluan sesaat sebelum berhubungan intim
dengan larutan bersifat asam yang dibuat dari 1 sendok cuka putih dicampurkan
kedalam segayung aqua hangat;2.
Lakukan
hubungan intim pada kira-kira 4 pertama setelah ovulasi;3.
Usahakan
supaya istri menunda orgasme ketika pihak laki sudah ejakulasi;4.
Semprotkan
airmani dekat pintu vagina jauh dari mulut rahim;5. Pasangan suami istri harus banyak makan makanan yang mengandung
kalsium, magnesium misalnya: susu, yogurt, kacang-kacangan, dan sayur, serta
mengurangi makan garam.F. Perawatan dan pendidikan anak yang benar.Perawatan
anak dalam Hindu berarti perawatan badan anak seutuhnya yang meliputi trisarira dan triguna.
Trisarira terdiri dari anggasarira atau Stula sarira yaitu badan kasar,
sukma sarira yaitu badan halus yang memberi kesadaran kepada manusia, terdiri
dari cita, budhi dan ahamkara. Sedangkan anantakarana sarira adalah atman.
Triguna adalah sattwam, rajas, tamas. Satwam adalah watak yang menyebabkan
perilaku sabar,hormat,penuh cinta kasih,rela berkorban, penolong, pemaaf. Rajas
adalah watak yang menyebabkan perilaku serba cepat,energetic dan mudah marah.
Tamas adalah watak yang menyebabkan perilaku yang serba lambat, malas ..
Antara
badan dan jiwa terdapat kaitan yang sangat erat. Pepatah Yunani kuno mengatakan mensana in corpore sano.
Artinya jiwa sehat terdapat dalam badan yang sehat. Bila dikaji dari filsafat
Samkya kaitan erat ini bila dimengerti karena jiwa dan badan keduanya berasal
dariPurusa dan Prakerti yang membentuk 25 unsur yang sama- sama menjadi unsure
pembentuk jiwa maupun badan. Menurut filsafat Samkya pula, dalam Prakerti- yang
merupakan unsure kosmik pembentukan manusia-terdapat triguna yang merupakan
unsure perwatakan yang memberi warna tingkah laku manusia.
Berdasarkan
pemahaman unsure-unsur yang membentuk manusia seutuhnya maka bila berbicara
mengenai perawatan anak tidak cukup hanya perawatan kesehatan fisik dan
mental/jiwa tetapi juga perawatan atman untuk mewujudkan atma hita. Perawatan kesehatan
fisik meliputi pemberian makanan bersih, suci,bukan sisa orang, bergisi dan
seimbang, cukup olahraga, dan lingkungan yang aman, nyaman dan memungkinkan
tumbuh dan berkembang secara optimal. Atmahita karana meliputi kegiatan :
·
Garbhadhana,
yaitu upacara ketika mulai diketahui sudah ada konsepsi pembuahan yaitu bertemu
dan bersatunya kama bang
dan kamapetak atau telur (ovum) yang merupakan
bibit dari pihak perempuan dan bibit dari pihak laki (sperma ).
·
Punsavana,
upacara 3 bulan kandungan
·
Simantonnayana,
upacara 6 bulan kandungan , di Bali disebut magedong-gedongan.
·
Upacara
Jatakarma ketika lahir. Untuk anak laki dilakukan sebelum
talipusar dipotong (Weda Smrti II,29)
·
Namakarana
atau namadheya: Menurut Weda Smrti II.30 upacara
pemberian nama dilakukan pada usia 10-12 hari atau pada hari lain yang dianggap
baik. Nama harus disesuaikan dengan wangsa.Untuk wanita
namanya harus mengandung arti penghormatan, sederhana dan tidak menakutkan. Semuanya
ini diatur dalam Veda Smrti II.31-33.
·
Niskramana:
upacara pada usia empat bulan dimana bayi sudah boleh dibawa kelur rumah
atau menyentuh (Weda Smrti II.34)
·
Annprasana:
upacara 6-7 bulan dimana bayi pertama kali diajarkan makan (Weda Smrti II. 3-4).
·
Cundakarma :
upacara potong rambut pertama, dilakukan untuk memperoleh kebajikan spiritual.
Dilakukan pada usia 1-3 tahun (3 tahun bagi orang-orang dwijati, Smrti II.35)
·
Upanayana :
upacara mengawali belajar secara formal. Menurut Weda Smrti II. 36,upacara ini
dilakukan pada tahun kedelapan setelah pembuahan bagi kaumbrahmana, tahun
kesebelas bagi kaum Ksatriya, tahun kedua belas bagi Waisya.
·
Samawartana ;
upacara setelah menyelesaikan pendidikan.
·
Wiwaha:
upacara perkawinan .
Di
India selain upacara tersebut diatas masih ada lagi upacara tambahan yaitu
upacara tindik kuping (Karnawedha)
pada usia 3 tahun dan upacara Weda
ramba : upacara mulai belajar weda pada usia 5 tahun
bagi kaum brahmana. Di Bali ada upacara mepandes atau upacara potong gigi.
Semua
upacara tersebut di atas dilakukan sebagai rangkaian pensucian untuk
membersihkan kotoran yang melekat pada diri anak yang diperoleh dari orang tua
ketika dalam kandungan sekaligus mohon bimbingan dan perlindungan dari Ida
Sanghyang Widhi, serta sebagai media untuk mengumpulkan sanak keluarga untuk
memberikan doa restu.Dalam rangka
perawatan fisik, perlu juga mengadopsi ilmu kedokteran modern yaitu dengan
memberikan upaya pencegahan penyakit lewat program imunisasiMisalnya;BCG untuk
mencegah TBC, Hepatitis A maupun B untuk mencegah infeksi virus Hepatitis pada
Hati, DPT untuk mencegah tetanus, batuk rejan dan infeksi menyumbat
tenggorokan, Polio untuk mencegah lumpuh polio, Campak untuk mencegah radang
paru basah dan radang otak, MMR untuk mencegah bengok, campak Jerman dan campak
bias, HIB untuk mencegah radang selaput otak, Varicella untuk menegah cacar
air, Typhim atau Typa untuk mencegah tipusl.G. PenutupDemikian beberapa hal
yang dapat kami sampaikan dalam makalah ini yang berthema pembinaan Remaja
Pra Nikah, semoga kegiatan orientasi keluarga Sukhinah dapat menjadaikan
sarana dan wahana peningkatan kualitas sumber daya manusia Hindu yang mandiri
dan berakhlak mulia menuju tercapai kehidupan yang sejahtera dan damai.Om Sarve bhavantu sukhinahSarve śāntu niramayahSarve bhadrāni paśyantuMa kaścid duhkha bhāg bhavet-Sloka Subhasita-Om, Hyang Widhi, semoga semuanya memperoleh
kebahagiaanSemoga semuanya memperoleh kedamaianSemoga semuanya memperoleh kebajikan dan saling pengertianJauhkanlah kami dari segala kedukaan dan halangan.Om Santih Santih Santih Omxx
Tidak ada komentar:
Posting Komentar